OTOMOTIF

Kelak, Menteri Akan Didorong Pakai Mobil SMK

"Kiat Esemka itu masih prototipe, belum banyak suku cadang, sehingga berisiko."
Selasa, 3 Januari 2012
Oleh : Elin Yunita Kristanti, Suryanta Bakti Susila
Mobil dinas Jokowi rakitan anak SMK.

VIVAnews - Keputusan Walikota Solo, Joko Widodo, dan wakilnya, FX Hadi Rudyatmo, menyingkirkan Camry lama mereka dan menggantinya dengan "Kiat Esemka", melambungkan mobil hasil rakitan siswa SMK dan bengkel Kiat, Klaten itu. Jadi terkenal.

Saat dimintai tanggapan soal keputusan pemimpin Kota Solo itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M Nuh, mengaku sangat bangga. Menurut dia, langkah Jokowi merupakan bentuk penghargaan yang tinggi terhadap dunia pendidikan.

"Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat yang sangat mengapresiasi, di antaranya menggunakan produk kami (SMK),  di antaranya yang sudah saya pakai, laptop," kata Nuh di Kantor Presiden, Selasa 3 Januari 2012.

Hal senada disampaikan Menteri UKM Syarif Hasan. Ia mengaku pernah meninjau dua sekolah asal para perakit muda itu, SMK 2 Surakarta dan SMK Warga Surakarta. "Saya tahunya kemampuan mereka assembling bagus, alat press body-nya itu mereka punya," ujarnya.

Artinya, langkah Jokowi patut ditiru pejabat lain?

"Begini, soal tiru meniru itu kan masalah kedua, lebih bagus bagaimana kita mendorong adik-adik kita ini kewirausahaanya semakin tumbuh," ujar politisi Demokrat itu.

Menurut dia, mobil "Kiat Esemka" itu masih prototipe, belum banyak suku cadang, sehingga berisiko bila banyak pejabat yang pakai. "Karena ini kan baru prototipe, kalau itu diharuskan pejabat lain memakai, kalau tiba-tiba ada kerusakan, sulit kan. Paling tidak, itu semangat yang baik," ujarnya.

Dia pun berharap, produk tersebut diteruskan hingga produksi massal. "Kalau sampai nanti produk massal, kita lihat saja. Sudah dibikin, suku cadang terjamin kita dorong lah, menteri-menteri suatu saat memakai ini," ujarnya.

Menurut Syarif, banyak cara menghargai kreatifitas tersebut. Antara lain memberi sokongan dana agar kreatifitas itu terus tumbuh.

Namun, Syarif mengungkapkan kementerriannya tidak memiliki cukup dana di dari APBN untuk membantu pembuatan produk itu secara massal. "Tolong tulis, kalau Menteri UKM perlu tambahan dana di APBN untuk dorong UKM," kata dia.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found