TUTUP
TUTUP
OTOMOTIF

Review Calya, Plus-Minus Jagoan Baru Toyota

Mobil ini memang sempurna bagi keluarga yang baru pindah dari motor.
Review Calya, Plus-Minus Jagoan Baru Toyota
Toyota Calya di Jalanan Bandung (Dok. TAM)

VIVA.co.id – Duet maut Toyota Calya dan Daihatsu Sigra baru sebulan diluncurkan. Namun, keberadaannya sudah bisa menggoyang penjualan mobil sejuta umat Avanza-Xenia.

Meski beda kelas, dua kakak kandung ini sempat goyang. "Penjualan Avanza di bulan Agustus sedikit kurang bergairah," kata Branch Manager Budi Jaya Mobilindo, Antoni Hardja. Budi Jaya merupakan diler Toyota di Garut.

Sedangkan Calya, secara nasional pada Agustus saja, Toyota sudah mengantongi pemesanan 17.300 unit. "Padahal kami hanya mematok target 7-8 ribu unit per bulan," kata Manager Public Relation Toyota Astra Motor Rouli Sijabat.

Lalu sebenarnya seperti apakah dalaman Calya? Anda penasaran?

Akhir pekan lalu VIVA.co.id mendapat kesempatan menjajal mobil murah tujuh penumpang itu. Kami memulai perjalanan dari Bandung, lalu menuju Garut dengan menumpang tipe G matik. Satu perjalanan yang lengkap karena meliputi perkotaan penuh macet, jalan raya luar kota, serta tanjakan dan turunan. 

"Dari suhu juga lengkap, ada panas dan dingin," kata Rouli. Sayangnya, jalanan jelek tidak kami rasakan sama sekali.

Mobil ini berstatus Low Cost Green Car, sehingga logonya pun bukan Toyota, melainkan logo lokal, lambang garuda. Tampilan depan, terutama gril, mengadopsi bentuk X yang serupa dengan Veloz, serta lampu kabut mirip Agya.

Bergerak ke belakang, sekilas seperti Innova apalagi melihat penempatan lampu dan lis krom di tengah.

Masuk ke kabin, kesan pertama yang didapat adalah minimalis sehingga mencerminkan karakter mobil murah. Tetapi, poin plusnya tata letak dasbor yang dibuat sedikit modern. Tuas rem tangan juga dibuat mirip seperti tuas transmisi.

Pengemudi pun bisa melihat beragam informasi melalui odometer, sebab sudah mengadopsi multi information display (MID). 

Saat duduk di kursi pengemudi, sagat cocok untuk saya yang bertinggi badan tak lebih dari 160 sentimeter. Untuk teman-teman yang 180 cm, kaki kerap mentok pada setiran. Bahkan sesekali mesin mati gara-gara kaki kanan menenggor anak konci.

Dari tempat duduk juga demikian. Saya masih bisa menyenderkan kepala pada head rest. Teman-teman yang lain, kepalanya tak bisa menyender sama sekali.

Calya memang cenderung lebih agresif dibanding kakak-kakak yang lain, seperti Avanza dan Innova. Ini tentu bukan karena tenaganya, melainkan karena bodi yang lebih enteng, sehingga memudahkan mobil berakselerasi.

Saat di jalanan macet, Calya juga lebih lincah. Bodi yang ramping sangat mudah berpindah jalur. Suspensinya pun relatif empuk.

Memasuki tol, mobil bisa digeber hingga 140 km/jam, meski awal geber harus pakai D3. Mobil itu membawa empat penumpang dan barang dengan total bobot 400an kilogram. Konsumsi bensin saat itu tercatat 14,3 km/liter.

Saat menanjak landai di Jalanan Nagrek-Garut, tenaganya lumayan terkuras. Terpaksa, Mobil harus dipindah ke D3. Bahkan saat macet, untuk memulainya, sesekali harus ke D2. 

Dari sisi penumpang, yang paling jadi perhatian adalah AC pada baris kedua. Bentuknya sangat ramping dan enak dilihat. Setelah diamati, ini bukan AC Double Blower seperti pada MPV lainnya. "Ini hanya lubang angin yang menyalurkan AC dari samping setir," kata Product Knowledge Head Toyota Astra Motor Gandhi Ahimsaputra. 

Mungkin skema tersebut dipilih untuk menjaga kerja mesin 1.2-liter dan juga mengejar efisiensi bahan bakar minyak (BBM). Menariknya lagi, desain blower dibuat tipis sehingga tidak memakan ruang banyak dan penumpang baris kedua tetap memiliki tingkat kenyamanan maksimal ketika duduk.

Tipisnya jok membuat bangku baris kedua terlihat sedikit lega. Memang, untuk yang berkaki panjang, tentu supaya lebih lega jok baris kedua harus dimundurkan penuh. Hanya saja Anda harus mengorbankan baris ketiga.

Di Calya, seluruh penumpang sudah menggunakan sabuk pengaman tiga titik. Tidak ada lagi yang menggunakan dua titik seperti pada bus dan pesawat. Tentu saja, ada yang harus dikorbankan. Pamandangan sopir dan penumpang baris ketiga jadi gak nyaman gara-gara sabuk meleler di kabin bagian atas, jadi terkesan tidak rapi.

Dari sisi audio, Calya sudah sedikit modern. Koneksi BlueTooth sudah diterapkan pada perangkat ini. Sehingga Anda bisa menyetel musik dari hanphone Anda. Namun, Anda jangan berharap kualitas Audio yang bagus, mengingat ini mobil rendah biaya.

Kesimpulan

Seperti pada arti namanya, Calya, sempurna, mobil ini memang sempurna bagi keluarga yang baru saja pindah dari sepeda motor ke mobil, tapi tidak bagi pemilik mobil ke sekian. Meski banyak kekurangan sana-sini, untuk harga Rp129,6 - 150 juta, mobil ini sudah layak jadi pilihan.

Kekurangan (-) : Tenaga, kualitas audio, fitur

Kelebihan (+) : Harga, handling, posisi pengemudi, suspensi, konsumsi BBM
 

TERKAIT
KOMENTARI ARTIKEL INI
VIDEO TERPOPULER
FOTO TERPOPULER
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP