TUTUP
TUTUP
OTOMOTIF

Penjualan Suzuki Turun, Pengaruh Kartel Yamaha-Honda?

Penjualan Suzuki menurun dibanding tahun lalu.
Penjualan Suzuki Turun, Pengaruh Kartel Yamaha-Honda?
All New Suzuki Satria F150 (VIVA/Dian Tami)

VIVA.co.id – PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menyebut bahwa penjualan motor Suzuki turun dibanding tahun kemarin. Hal itu, lantaran kondisi perekenomian yang kian lesu. Hal itu diungkapkan Department Head Marketing and Sales 2W PT SIS, Yohan Yahya.

"Dibanding tahun lalu, ya iya (penurunan penjualan). Memang, secara industri juga turun sekitar 11-12 persen," kata Yohan.

Menurut dia, tahun lalu pihaknya hanya bisa menjual 109.882 unit. Sementara itu, pada periode Januari-Agustus 2016, Suzuki hanya bisa menjual sepeda motor sekitar 109.000 unit. Yohan pun mengharapkan, program pemerintah seperti pengampunan pajak bisa memulihkan penjualan motor.

"Situasi tidak terlalu baik, meskipun dengan adanya perubahan. Kalau kita lihat tax amnesty oke, infrastruktur jalan lagi, ekonomi berputar, saham baik, ke depan harus lebih baik," ungkapnya.

Yohan optimistis, gelaran Indonesia Motorcycle Show (IMoS) 2016 bisa mendongkrak penjualan sepeda motor. Minimal, bisa mencapai target Suzuki yakni sebesar 130 ribu unit.

"IMoS ini tantangan kita juga untuk mengenalkan produk apa yang kita unggulkan ya, jadi kalau bicara kenaikan otomatis semua orang akan melihat di IMoS itu akan banyak oranglah yang melihat, karena ini ajang internasional," katanya.

Apa pengaruh dari Kartel Yamaha-Honda?

Menurunnya penjualan Suzuki ini apakah pengaruh semakin kuatnya dominasi Honda dan Yamaha? Terlebih, dua produsen motor ini tengah tersandung masalah persekongkolan yang ditudingkan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU).

Namun, menurut Yohan, pihaknya justru tak meyakini bahwa adanya persekongkolan antara Yamaha dan Honda dalam menetapkan harga jual sepeda motor jenis skutik di Tanah Air.

"Enggak adalah, kalau ada kan dia 50-50 (market share), tetapi kalau selisihnya jauh yang satu makin turun, yang satu naik, ya menurut saya enggak ada kartel," kata Yohan.

Menurut dia, kenaikan harga sepeda motor sampai tiga kali dalam kurun waktu yang sama adalah hal yang wajar. Kata Yohan, hal itu adalah bagian dari persaingan bisnis di industri otomotif. "Ya, itu persaingan bisnis biasa lah, ya wajar lah. Menurut saya juga banyak lah di bisnis apapun juga namanya persaingan," ungkapnya.

Ia meyakini tak ada kartel harga sepeda motor matik sebagaimana tudingan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). "Siapa yang mau satu 20 persen, yang satu 60 persen siapa yang mau kalau kartel enggak, kita kan semuanya bayar pajak, lihat aja pajaknya gampang kok," katanya. (asp)

TERKAIT
KOMENTARI ARTIKEL INI
VIDEO TERPOPULER
FOTO TERPOPULER
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP