TUTUP
TUTUP
OTOMOTIF

Ingin Jadi Kolektor Mobil Mainan, Perlu Tahu Ini

Tak perlu beli yang mahal dahulu.
Ingin Jadi Kolektor Mobil Mainan, Perlu Tahu Ini
Miniatur mobil atau disebut diecast (VIVA.co.id/Herdi Muhardi)

VIVA.co.id – Miniatur mobil atau yang sering disebut diecast saat ini peminatnya cukup tinggi di Indonesia. Saking banyaknya, pada 29-30 Oktober 2016 mendatang akan digelar Indonesia Diecast Expo (IDE) 2016 yang berlangsung di Balai Kartini, Jakarta Selatan.

Namun bagi para pemilik diecast baru atau disebut newbie, ada baiknya mengetahui beberapa hal yang disampaikan Co Founder Toys Model Collector Indonesia (Tomoci), Kemas Yulis Michwan.

Menurut Kemas, diecast seperti mobil-mobil memang tak jauh berbeda dengan mainan yang saat ini dijumpai atau dimiliki anak-anak. Hanya saja, jika toys menggunakan bahan yang aman untuk anak-anak, sedangkan untuk model mobil tidak.

“Produsen mainan biasanya dibuat dengan memperhitungkan toys akan dimakan, masuk ke dalam mulut, dibanting, dicelup ke air, hingga dibakar. Sedangkan diecast model biasanya dibuat untuk dewasa sehingga tidak terlalu mementingkan unsur safety,”  kata Kemas.

Tak hanya itu, jika mainan diproduksi dengan jumlah banyak sementara model tidak. Oleh karenanya ada diecast yang harganya hingga puluhan juta rupiah.

Kata Kemas, agar tak mudah tertipu mendapatkan diecast palsu, ada baiknya para newbie tidak langsung mengoleksi mobil yang sedang heboh atau gandrungi terlebih jika banderol mahal. Sebaliknya, newbie cukup mengoleksi diecast yang disenangi bagi dirinya sendiri.

“Jadi, jangan beli sesuatu mainan kenapa mahal. Karena penyebab mahal itu banyak. Bisa saja gara-gara salah produksi, salah lisensi, atau salah blister dan lainnya,” ujar

Kemas menyatakan, koleksi diecast ada baiknya disesuaikan dengan selera, karena setelah melewati beberapa waktu dipastikan Anda akan mengetahui arah mana mobil-mobil yang akan dijadikan koleksi.

“Setelah itu ikut komunitas, karena informasi dari komunitas itu ada yang tidak umum, ada juga pengalaman koleksi. Jadi banyak faktor plus kalau ikut komunitas,” kata Kemas.

TERKAIT
KOMENTARI ARTIKEL INI
VIDEO TERPOPULER
FOTO TERPOPULER
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP